Di dalam bahasa Indonesia kerap kita
dengar kata ungkapan. Selain ungkapan, ada juga yang dinamakan idiom dan kata
majemuk. Lalu apakah perbedaan ketiganya?
Idiom disebut juga dengan ungkapan.
Idiom adalah gabungan kata yang maknanya tidak dapat dirunut dari arti
setiap komponennya atau setiap unsur pembentuknya. Makna sebuah idiom merupakan
makna baru. Berbeda halnya dengan kata majemuk. Kata majemuk adalah gabungan
kata yang maknanya dapat dirunut dari arti setiap atau salah satu unsur
pembentuknya. Supaya lebih jelas, mari simak contoh berikut.
IDIOM
1.
kambing
hitam : orang
yang dipersalahkan, tertuduh
2.
meja
hijau : pengadilan
3.
rumah
tangga : berkenaan dengan keluarga
Pada contoh nomor 1, frasa kambing hitam memiliki arti orang yang dipersalahkan (tertuduh). Makna baru yang terbentuk
dari frasa kambing hitam yakni orang yang dipersalahkan, tertuduh tidak memiliki hubungan
dengan kata “kambing” dan juga kata “hitam”. Dengan demikian, frasa kambing hitam membentuk makna baru yang
tidak dapat dirunut dari unsur pembentuknya: kambing dan hitam.
Pada contoh nomor 2, frasa meja hijau memiliki arti pengadilan bukan meja berwarna hijau. Makna baru yang terbentuk dari frasa meja
hijau yakni pengadilan, tidak
memiliki hubungan dengan kata “meja” dan juga kata “hijau”. Dengan demikian, frasa
meja hijau membentuk makna baru yang tidak dapat dirunut dari unsur
pembentuknya: meja dan hijau, sehingga dapat dikatakan bahwa
frasa meja hijau disebut idiom.
Lalu,
bagaimana dengan kata majemuk?
KATA
MAJEMUK
1.
rumah
sakit : gedung
tempat merawat orang sakit
2.
kereta
api : kereta
yg terdiri atas rangkaian gerbong (kereta) yg ditarik oleh
lokomotif, dijalankan dng tenaga uap (atau listrik) berjalan di atas rel
lokomotif, dijalankan dng tenaga uap (atau listrik) berjalan di atas rel
Jika dicermati, contoh 1 dan contoh 2 di
atas tentu berbeda dengan idiom. Frasa rumah
sakit bukan berarti rumah yang sakit, melainkan artinya adalah rumah atau
gedung untuk merawat orang sakit. Arti dari frasa rumah sakit masih bisa ditelusuri dari unsur pembentuknya. Begitu
pula dengan frasa kereta api memiliki
makna yang masih bisa di runut dari unsur pembentuknya, yakni rangkaian gerbong
(kereta) yang dijalankan dengan listrik atau tenaga uap. Makna dari frasa rumah sakit dan kereta api tidak jauh berbeda dengan unsur pembentuknya.
Ciri kedua dari kata majemuk ialah tidak
dapat disisipi dengan kata lain, misal: yang atau sedang. Apabila sebuah kata
majemuk disisipi kata lain maka artinya akan berbeda dan tidak logis (tidak
masuk akal). Jadi contoh dan 2 di atas
jika disisipi kata yang maka akan
menjadi:
1.
rumah yang
sakit.
2.
kereta yang api
Tidak ada komentar:
Posting Komentar